Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap <p style="text-align: justify; background: white;">Jurnal Abdimas Pamenang (JAP) merupakan publikasi ilmiah enam bulanan yang diterbitkan oleh STIKES PAMENANG Kediri. Jurnal Abdimas Pamenang menyajikan informasi dan kajian ilmiah hasil pengabdian masyarakat pada lingkup keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan issu-issu terkini terkait masalah kesehatan masyarakat.</p> <p style="text-align: justify; background: white;">Redaksi Jurnal Abdimas Pamenang menerima karya ilmiah hasil pengabdian masyarakat dari bidang keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan kesehatan masyarakat dari para intelektual, praktisi, mahasiswa serta siapa saja untuk menulis dan berbagi hasil pengabdian masyarakat maupun pemikiran secara bebas, kritis, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Seluruh artikel yang masuk akan melalui proses review oleh para reviewer dengan bidang kepakaran yang relevan.</p> en-US [email protected] (Dwi Rahayu S.Kep.,Ns ., M.Kep) [email protected] (Akhmad Kamal) Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 OJS 3.3.0.11 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 YOUTH EMPOWERMENT MELALUI PELATIHAN KEGAWATDARURATAN PADA ANGGOTA PMR SMP IT ASSALAM MALANG https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/471 <p>Palang Merah Remaja (PMR) di SMP IT Assalam Malang memiliki peran penting sebagai first responder dalam kegawatdaruratan di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan dan survei, didapatkan kondisi program PMR yang kapasitasnya masih terbatas, dengan hanya 20% anggota yang memahami Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan 40% peralatan P3K yang tidak layak. Pengabdian masyarakat ini mengimplementasikan model pelatihan aktif kepada 25 anggota PMR. Metode pelaksanaan mencakup workshop, demonstrasi, praktik langsung menggunakan manekin, serta pemanfaatan media edukasi inovatif berupa modul "SIGAP!" dan flashcard "Seri First Aid". Hasil dari kegiatan ini terjadi peningkatan pengetahuan, dari skor rata-rata pre-test 35% menjadi 85% pada post-test. Sebanyak 95% peserta mampu mendemonstrasikan prosedur BHD dengan benar dan 90% terampil dalam teknik pertolongan pertama cedera umum. Kegiatan pengabdian ini terbukti efektif meningkatkan kompetensi kognitif dan psikomotor anggota PMR. Program ini berhasil memberdayakan anggota PMR atau <em>youth empowerment</em> sebagai garda terdepan penanganan darurat berbasis sekolah yang tangguh dan berkarakter.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>The Youth Red Cross (PMR) at SMP IT Assalam Malang plays a vital role as first responders for emergencies at school. Based on observations and surveys, it was found that the program's capacity was quite limited, with only 20% of its members understanding Basic Life Support (BLS) and 40% of the first aid equipment being in poor condition. This community service project implemented an active training model for 25 PMR members. The methods included workshops, demonstrations, hands-on practice with mannequins, and the use of innovative educational tools, such as the "SIGAP!" module and the "First Aid Series" flashcards. As a result of this activity, there was a significant increase in knowledge, with the average pre-test score rising from 35% to 85% on the post-test. Additionally, 95% of the participants were able to correctly demonstrate BLS procedures, and 90% became skilled in first aid techniques for common injuries. This community service project proved to be effective in improving both the cognitive (knowledge) and psychomotor (practical) skills of the PMR members. The program successfully empowered the PMR to become a resilient and principled frontline for emergency response at school</em></p> Indah Dwi Pratiwi, Edi Purwanto, Aisyah Az Zahra Maharani, Elok Febrianti, Farel Cheri Sisnadia Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/471 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 OPTIMALISASI PENGETAHUAN SISWA TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA DISLOKASI MELALUI PELATIHAN DENGAN MEDIA QR CODE DAN METODE DEMONSTRASI https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/470 <p>Aktivitas olahraga pada siswa remaja memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya cedera muskuloskeletal, salah satunya dislokasi, yang apabila tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi serius. Pengetahuan siswa mengenai pertolongan pertama dislokasi menjadi aspek penting dalam upaya pencegahan dampak cedera yang lebih berat, sehingga diperlukan metode pelatihan yang inovatif, interaktif, dan aplikatif diantaranya adalah pemanfaatan media digital berbasis QR code yang dikombinasi dengan metode demonstrasi. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan pertolongan pertama dislokasi melalui pelatihan dengan media digital berbasis QR Code dan metode demonstrasi pada siswa di SMAN 1 Plemahan. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan pendekatan pemberdayaan melalui edukasi dan pelatihan yang melibatkan 36 siswa. Edukasi tentang dislokasi melalui media digital berbasis QR Code dan pelatihan cara memberikan pertolongan pertama dilakukan melalui demonstrasi. Hasil kegiatan menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan siswa dengan kategori baik dari 8,3% menjadi 63,9%. Media digital berbasis QR Code lebih menarik perhatian siswa sesuai tahap perkembangan remaja dan dapat memfasilitasi pembelajaran mandiri dan pengulangan materi secara fleksibel yang bisa diakses siswa dengan mudah, sedangkan metode demonstrasi memungkinkan siswa memahami prosedur pertolongan pertama secara konkret melalui pengamatan langsung. Diharapkan agar metode ini dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran maupun ekstrakurikuler seperti PMR guna meningkatkan literasi kesehatan siswa secara lebih luas.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Sports activities in adolescent students carry a high risk of musculoskeletal injuries, one of which is dislocation, which if not handled properly can lead to serious complications. Student knowledge of first aid for dislocation is a crucial aspect in preventing more severe injuries, so innovative, interactive, and applicable training methods are needed, including the use of QR code-based digital media combined with demonstration methods. The purpose of this community service activity is to improve knowledge of first aid for dislocation through training with QR Code-based digital media and demonstration methods for students at SMAN 1 Plemahan. The community service activity was carried out using an empowerment approach through education and training involving 36 students. Education about dislocation through QR Code-based digital media and training on how to provide first aid was carried out through demonstrations. The results of the activity showed an increase in student knowledge with a good category from 8.3% to 63.9%. QR Code-based digital media is more attractive to students according to the developmental stage of adolescents and can facilitate independent learning and flexible repetition of material that can be easily accessed by students, while the demonstration method allows students to understand first aid procedures concretely through direct observation. It is hoped that this method can be implemented sustainably in learning and extracurricular activities such as PMR to improve students' health literacy more broadly.</em></p> Diana Rachmania, Dhina Widayati, Dwi Setyorini Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/470 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 IBU HEBAT, ANAK SIAGA : EDUKASI KEBENCANAAN MELALUI SEKOLAH SUNGAI DI DESA MINGGIRSARI KABUPATEN BLITAR https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/485 <p>Desa Minggirsari Kabupaten Blitar merupakan wilayah yang memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, khususnya banjir akibat kedekatannya dengan kawasan aliran sungai. Rendahnya literasi kebencanaan keluarga, terutama dalam aspek mitigasi dan kesiapsiagaan, menjadi tantangan yang berpotensi meningkatkan risiko korban saat terjadi bencana. Pengabdian masyarakat ini berfokus pada penguatan kapasitas keluarga melalui program pendampingan literasi kebencanaan berbasis komunitas dengan memanfaatkan Sekolah Sungai sebagai ruang edukasi partisipatif. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan keluarga dalam menghadapi potensi bencana secara mandiri dan berkelanjutan. Metode pengabdian menggunakan pendekatan <em>Participatory Action Research</em> (PAR) dengan strategi edukasi partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan mitigasi bencana, simulasi evakuasi, permainan edukatif, serta pendampingan keluarga siaga bencana. Subjek pengabdian terdiri atas ibu, anak, dan masyarakat sekitar kawasan sungai di Desa Minggirsari. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai tanda-tanda bencana, jalur evakuasi, serta langkah penyelamatan diri dan keluarga. Selain itu, kegiatan ini berhasil membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya budaya sadar bencana melalui keterlibatan aktif keluarga dan komunitas lokal. Program Sekolah Sungai juga menjadi media edukasi yang efektif dalam memperkuat ketangguhan keluarga berbasis lingkungan dan komunitas.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Minggirsari Village, Blitar Regency, is vulnerable to hydrometeorological disasters, particularly flooding, due to its proximity to river basins. Low levels of family disaster literacy, particularly in mitigation and preparedness, pose a challenge that potentially increases the risk of casualties during a disaster. This community service project focuses on strengthening family capacity through a community-based disaster literacy mentoring program utilizing the River School as a participatory educational space. The objective of this activity is to increase family knowledge, awareness, and skills in responding to potential disasters independently and sustainably. The community service method uses a Participatory Action Research (PAR) approach with participatory education strategies through outreach, disaster mitigation training, evacuation simulations, educational games, and disaster preparedness family mentoring. The community service participants included mothers, children, and the community around the river basin in Minggirsari Village. The results of the community service program indicate an increase in community understanding of disaster warning signs, evacuation routes, and personal and family safety measures. Furthermore, this activity successfully built collective community awareness of the importance of a disaster-aware culture through the active involvement of families and the local community. The River School program also serves as an effective educational tool for strengthening family resilience based on the environment and community.</em></p> Yuanita Syaiful, Agus Wahyudi, A. Maya Rupa Anjeli, Ervi Suminar, Lina Madyastuti Rahayuningrum Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/485 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENDAMPINGAN KESIAPSIAGAAN BENCANA ERUPSI GUNUNG MELETUS MELALUI PENDEKATAN STORYTELLING MODEL BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA SISWA SDN 64 KOTA TERNATE https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/494 <p>Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam karena berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia, serta termasuk dalam kawasan Ring of Fire. Salah satu gunung api aktif yang berpotensi menimbulkan ancaman bencana adalah Gunung Gamalama di Kota Ternate, Maluku Utara. Anak usia sekolah merupakan kelompok rentan yang memerlukan peningkatan kapasitas pengetahuan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesiapsiagaan bencana erupsi Gunung Gamalama pada siswa melalui pendekatan storytelling berbasis kearifan lokal Ternate. Kearifan lokal yang digunakan mencakup narasi turun-temurun komunitas Ternate tentang cara bertahan saat erupsi Gunung Gamalama, yang dituangkan dalam booklet storytelling berHAKI. Kegiatan dilaksanakan di SDN 64 Kota Ternate yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) I dengan melibatkan 30 siswa kelas IV dan V sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesiapsiagaan bencana menggunakan media booklet, pemutaran video animasi, diskusi interaktif, serta kegiatan storytelling yang mendorong siswa berbagi pengalaman dan pengetahuan lokal terkait bencana. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan kuesioner 10 item untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan kesiapsiagaan bencana, dimana sebanyak 86,7% siswa mencapai kategori pengetahuan baik pada saat post-test, meningkat dari 16,7% pada saat pre-test. Pendekatan storytelling berbasis kearifan lokal berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai langkah-langkah tanggap darurat erupsi Gunung Gamalama.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Indonesia is a country with a high level of vulnerability to natural disasters due to its location at the convergence of three major tectonic plates—Pacific, Eurasian, and Indo-Australian—and its position within the Ring of Fire. Gunung Gamalama in Ternate City, North Maluku, is one of the active volcanoes that poses a significant disaster threat. School-age children represent a vulnerable group that requires increased disaster preparedness capacity. This community service activity aimed to enhance students’ understanding of disaster preparedness and empathy skills through a local wisdom-based storytelling approach. The activity was conducted at SDN 64 Ternate City, located in a high-risk disaster zone (KRB I), involving 30 students from grades IV and V. Methods included disaster preparedness counseling using booklet media, animated video screening, interactive discussions, and storytelling sessions that encouraged students to share local knowledge and experiences related to disasters. Evaluation was conducted through pre-test and post-test assessments. Results demonstrated a significant improvement in students’ understanding, with 86.7% achieving the ‘good’ comprehension category in the post-test, compared to only 16.7% in the pre-test. The local wisdom-based storytelling approach proved effective in enhancing students’ understanding of emergency response procedures and building their readiness to face disaster situations.</em></p> Rasdiyanah Muhlis, Fitri idrus, Amira BSA Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/494 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 UPAYA PENCEGAHAN MENTAL DISORDERS MELALUI SKRINING PERAN KELUARGA DAN EDUKASI MANAGEMENT KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/500 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Periode transisi remaja mengalami perubahan biologis, psikologis serta social yang pesat menuju ke dewasa cenderung menimbulkan tekanan tersendiri sebagai stressor yang rentan mengalami <em>mental disorders,</em> seperti kecemasan, penurunan prestasi akademik, masalah hubungan sosial, penyalahgunaan zat terlarang, depresi, hingga bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan sumber pendukung kesinkronan adekuat, dari sekolah sebagai tempat remaja menghabiskan banyak waktu maupun dari keluarga berperan menjaga stabilitas emosional. Tujuan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini melakukan upaya pencegahan <em>mental disorders</em> melalui skrining kesehatan mental dan peran keluarga, serta memberikan edukasi mengenai manajemen kesehatan mental pada remaja di lingkungan sekolah. Metode kegiatan PKM menggunakan tiga tahap: perencanaan, implementasi dan evaluasi, meliputi survey lokasi, proposal, perijinan, menyusun media skrining kesehatan mental remaja berupa kuisioner masalah gangguan kejiwaan dan modefikasi lima tugas kesehatan mental keluarga, melakukan kegiatan skrining menggunkan kuisioner yang telah disusun, dilanjutkan dengan mengedukasi management kesehatan mental, kemudian mengevaluasi hasil skrining dan proses kegiatan. Hasil kegiatan ini menunjukkan hasil skrining kesehatan mental remaja di tingkat baik sebesar 72,73%, cukup sebesar 24,24% dan kurang sebesar 3,03%. Sedangkan hasil tingkat tugas keluarga kesehatan jiwa baik sebesar 48% dan cukup sebesar 52%. Adapun hasil edukasi manajemen kesehatan mental terbukti dapat meningkatkan pemahaman peserta. Kesimpulan kegiatan ini menunjukkan bahwa pencegahan <em>mental disorder</em> pada remaja di sekolah sebagai salah satu indikator kesejahteraan psikologis dapat dilakukan melalui skrining kesehatan mental serta edukasi secara intensif dan berkelanjutan. Upaya tersebut memerlukan pendekatan yang proaktif dan terstruktur, serta melibatkan koordinasi multipihak antara sekolah dan keluarga guna mencetak generasi bangsa yang unggul.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Adolescence is a transitional period characterized by rapid biological, psychological, and social changes toward adulthood, which often create unique pressures as stressors that increase vulnerability to mental disorders, such as anxiety, declining academic achievement, social relationship problems, substance abuse, depression, and even suicide. Therefore, adequate and synchronized support systems are needed, both from schools, where adolescents spend much of their time, and from families, which play a crucial role in maintaining emotional stability</em> <em>The purpose service community was effort prevent mental disorders through mental health screening and family roles by providing mental health management education for adolescents in school environment. This activity method used three stages: planning, implementation, and evaluation, including location surveys, proposals, and permits; compiling adolescent mental health and screening media questionnaires for mental disorders; five family mental health task modifications; implementing screening used questionnaires and mental health management education; then evaluation of screening results and activity processes. The results showed adolescent mental health screening was at good level of 72.73%, moderate of 24.24% and poor of 3.03%. Meanwhile, the results family mental health tasks were good level of 48% and moderate of 52%. The mental health management education program improved participants' understanding. Conclusion, prevention disorders mental among adolescents in schools, as an indicator of psychological well-being, can be achieved through mental health screening and intensive, continuous educational efforts. Such initiatives require proactive and structured approaches, as well as multi-stakeholder coordination between schools and families to future generation.</em></p> Erwin Yektiningsih, Novice Afnan El Fikry, Erni Rahmawati, M.Ikhwan Kosasih Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/500 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KEGAWATAN DIABETIK DI POSYANDU CEMPAKA DUSUN KEMENDUNG DESA SEKOTO KECAMATAN BADAS https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/501 <p>Kegawatan diabetik merupakan kondisi yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan segera. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, serta pertolongan awal pada kondisi kegawatan diabetik dapat meningkatkan risiko komplikasi dan kematian. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kegawatan diabetik melalui penyuluhan kesehatan di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Cempaka dusun Kemendung, desa Sekoto, kecamatan Badas. Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab yang melibatkan 60 peserta. Evaluasi dilakukan melalui penilaian proses dengan mengamati antusiasme dan keaktifan peserta selama kegiatan, serta evaluasi hasil melalui tanya jawab langsung untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta didominasi oleh perempuan (80%) dengan distribusi usia yang beragam, mulai dari 16 tahun hingga lebih dari 64 tahun. Kelompok usia terbanyak adalah 56–64 tahun (26,68%), diikuti usia 16–22 tahun (23,33%). Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, aktif dalam diskusi, serta mampu menjawab pertanyaan terkait pengertian diabetes melitus, tanda dan gejala kegawatan diabetik, faktor risiko, dan langkah pertolongan awal. Temuan ini menunjukkan bahwa Posyandu ILP merupakan sarana yang efektif untuk penyelenggaraan pendidikan kesehatan berbasis masyarakat karena mampu menjangkau berbagai kelompok usia dan topik tentang kegawatan diabetik masih asing dan baru bagi masyarakat sehingga membutuhkan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kegawatan diabetik.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Diabetic emergencies are life-threatening conditions that require immediate treatment. Lack of public knowledge regarding the signs, symptoms, and initial assistance for diabetic emergencies can increase the risk of complications and death. This community service activity aims to increase public understanding of diabetic emergencies through health education at the Integrated Primary Service Post (ILP) Cempaka, Kemendung hamlet, Sekoto village, Badas district. The activity was carried out using interactive lectures, discussions, and question and answer methods involving 60 participants. Evaluation was carried out through process assessment by observing the enthusiasm and activeness of participants during the activity, as well as evaluation of the results through direct question and answer to determine participants' understanding of the material presented. The results of the activity showed that participants were predominantly female (80%) with a diverse age distribution, ranging from 16 years to over 64 years. The largest age group was 56–64 years (26.68%), followed by 16–22 years (23.33%). During the activity, participants showed high enthusiasm, were active in discussions, and were able to answer questions related to the definition of diabetes mellitus, signs and symptoms of diabetic emergencies, risk factors, and first aid steps. These findings indicate that Posyandu ILP is an effective means for implementing community-based health education because it is able to reach various age groups and the topic of diabetic emergencies is still unfamiliar and new to the community, thus requiring further efforts to increase public knowledge and awareness about diabetic emergencies.</em></p> Zauhani Kusnul, Christianto Nugroho, Arecca Falya Laggan Augustien, Balqis Tsaqifa, Naura Deastefy, Shellen Amel Armeychea Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/501 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 PELATIHAN KADER LANSIA PUSKESMAS PARE KEDIRI BERBASIS SIMULASI DALAM PERTOLONGAN DAN RUJUKAN KEGAWATDARURATAN https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/473 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kegawatdaruratan pada lansia merupakan kondisi yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi, kecacatan, hingga kematian. Keterbatasan akses layanan kesehatan serta rendahnya pengetahuan masyarakat, khususnya kader kesehatan, menjadi salah satu faktor penghambat dalam penanganan awal kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kader lansia di Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri dalam melakukan pertolongan pertama dan rujukan kegawatdaruratan.</p> <p>Metode yang digunakan adalah pelatihan berbasis teori dan praktik yang meliputi materi identifikasi kondisi gawat darurat pada lansia, prinsip pertolongan pertama, sistem rujukan, serta simulasi kasus. Peserta pelatihan adalah kader lansia yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pare. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta observasi keterampilan selama praktik.</p> <p>Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader dalam penanganan awal kegawatdaruratan lansia. Rata-rata nilai post-test (56,40) mengalami peningkatan dibandingkan pre-test (78,90) yang menunjukkan efektivitas pelatihan. Didapatkan peningkatan keterampilan dan kemampuan dalam tujukan kasus kegawatdaruratan dengan mampu melakukan identifikasi dini kondisi gawat darurat dan memahami alur rujukan yang tepat.</p> <p>Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan kader lansia efektif dalam meningkatkan kapasitas kader dalam pertolongan dan rujukan kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Diharapkan kegiatan ini dapat berkontribusi dalam menurunkan risiko keterlambatan penanganan kegawatdaruratan pada lansia serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan berbasis masyarakat.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Elderly emergencies require prompt and appropriate treatment to prevent complications, disability, and even death. Limited access to healthcare services and low public knowledge, particularly among health workers, are among the inhibiting factors in initial emergency management at the community level. This community service activity aims to improve the competency of elderly health workers at the Pare Community Health Center in Kediri Regency in providing first aid and emergency referrals.</em></p> <p><em>The method used was theory-based and practical training, covering topics on identifying emergency conditions in the elderly, first aid principles, referral systems, and case simulations. The training participants were elderly health workers within the Pare Community Health Center's work area. Evaluation was conducted through pre- and post-tests to measure knowledge gains and skills observations during the practice.</em></p> <p><em>The results of the activity showed a significant increase in the knowledge and skills of cadres in initial emergency management for the elderly. The average post-test score (56.40) increased compared to the pre-test (78.90), demonstrating the effectiveness of the training. Improved skills and abilities in addressing emergency cases were observed, including the ability to identify emergency conditions early and understand the appropriate referral pathway.</em></p> <p><em>The conclusion of this activity is that the training of elderly cadres is effective in increasing their capacity to provide emergency care and referrals at the community level. It is hoped that this activity will contribute to reducing the risk of delayed emergency care for the elderly and improving the quality of community-based health services.</em></p> Bambang Wiseno, Iva Milia Hani Rahmawati, Pratiwi Yuliansari Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/473 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 EDUKASI BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) SEJAK DINI PADA SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR MI AL IKHWAN MELALUI MEDIA VIDEO ANIMASI https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/488 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan keterampilan penting dalam memberikan pertolongan awal pada kondisi kegawatdaruratan guna meningkatkan peluang keselamatan korban sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Namun, pengetahuan siswa sekolah dasar mengenai BHD masih terbatas akibat kurangnya edukasi yang diberikan secara sistematis. Media video animasi dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif karena mampu menyampaikan informasi secara menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh anak. <strong>Tujuan:</strong> Mengetahui efektivitas edukasi BHD melalui media video animasi dalam meningkatkan pengetahuan siswa kelas VI MI Al Ikhwan. <strong>Metode:</strong> Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan desain pre-test dan post-test pada 37 siswa kelas VI MI Al Ikhwan. Pengetahuan siswa diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah pemberian edukasi BHD melalui video animasi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. <strong>Hasil:</strong> Sebelum intervensi, sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 20 siswa (54,1%), kategori cukup 12 siswa (32,4%), dan kategori baik 5 siswa (13,5%). Setelah edukasi diberikan, jumlah siswa dengan kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 25 siswa (67,6%), kategori cukup menjadi 10 siswa (27,0%), sedangkan kategori kurang menurun menjadi 2 siswa (5,4%). Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah mendapatkan edukasi melalui media video animasi. <strong>Kesimpulan:</strong> Edukasi BHD melalui media video animasi efektif meningkatkan pengetahuan siswa kelas VI MI Al Ikhwan. Media ini dapat digunakan sebagai alternatif pendidikan kesehatan yang menarik dan mudah dipahami untuk meningkatkan pemahaman siswa sekolah dasar tentang pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Basic Life Support (BLS) is an essential skill in providing initial assistance during emergency situations to increase the victim’s chances of survival before receiving further medical treatment. However, elementary school students’ knowledge of BLS is still limited due to the lack of systematic educational interventions. Animated video media can serve as an effective learning tool because it delivers information in an engaging, interactive, and easily understandable way for children. <strong>Objective:</strong> To determine the effectiveness of BLS education through animated video media in improving the knowledge of sixth-grade students at MI Al Ikhwan. <strong>Methods:</strong> This community service activity used a pre-test and post-test design involving 37 sixth-grade students at MI Al Ikhwan. Students’ knowledge was measured using a questionnaire before and after the BLS education delivered through animated videos. Data were analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. <strong>Results:</strong> Before the intervention, most students had a low level of knowledge (20 students; 54.1%), followed by moderate (12 students; 32.4%) and good categories (5 students; 13.5%). After the educational intervention, the number of students with good knowledge increased to 25 students (67.6%), moderate category became 10 students (27.0%), while the low category decreased to 2 students (5.4%). These results indicate an improvement in students’ knowledge after receiving education through animated video media. <strong>Conclusion:</strong> BLS education through animated video media is effective in improving the knowledge of sixth-grade students at MI Al Ikhwan. This media can be used as an alternative health education method that is engaging and easy to understand, helping to enhance elementary school students’ understanding of first aid in emergency situations.</em></p> Tengku Isni Yuli Lestari Putri, Rohmi Fadhli, Muhammad Dwi Satriyanto, Caroline Wijaya, Adnesya Prila Arneti, Amrizal Siregar Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/488 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENDIDIKAN KESEHATAN PADA IBU BALITA TENTANG PEMBERIAN MAKANAN BERGIZI DARI SAWI DAN IKAN LELE UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN DALAM MENDUKUNG TUMBUH KEMBANG BALITA https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/512 <p><strong>Abstrak</strong> </p> <p>Pertumbuhan dan perkembangan balita yang optimal merupakan parameter penting pembangunan modal manusia. Kegagalan tumbuh kembang pada masa balita dapat berdampak jangka panjang, seperti stunting, gangguan perkembangan kognitif, penurunan daya tahan tubuh, serta rendahnya produktivitas di masa dewasa, sehingga menjadi ancaman serius bagi kualitas generasi mendatang. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi sebelum, selama kehamilan, dan setelah melahirkan. Pendidikan kesehatan tentang pemberian makanan bergizi berbasis pangan lokal seperti sawi dan ikan lele merupakan salah satu strategi promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita sebagai langkah awal dalam mendukung tumbuh kembang balita secara optimal. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang pemberian makanan bergizi dari sawi dan ikan lele sebagai upaya mendukung tumbuh kembang balita. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei 2026 dengan tahapan penyampaian materi menggunakan leaflet dan power point, dilanjutkan dengan demonstrasi pengolahan serta pemberian olahan makanan berbahan sawi dan ikan lele kepada 35 ibu balita di Posyandu Melati Desa Tertek. Evaluasi dilakukan melalui sesi diskusi tanya jawab, dan hasil menunjukkan seluruh peserta aktif berpartisipasi serta terjadi peningkatan pemahaman ibu balita mengenai pemberian makanan bergizi setelah pendidikan kesehatan diberikan. Peningkatan pengetahuan ini menjadi indikator awal keberhasilan kegiatan, sementara dampaknya terhadap tumbuh kembang balita secara optimal memerlukan pemantauan dan pendampingan lanjutan. Pendidikan kesehatan berbasis pangan lokal ini merupakan strategi yang layak dikembangkan dan direplikasi secara berkelanjutan guna mendukung penurunan angka stunting.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Optimal growth and development in toddlers is a key indicator of human capital development. Failure to thrive during the toddler period can have long-term consequences, such as stunting, impaired cognitive development, reduced immune function, and lower productivity in adulthood, posing a serious threat to the quality of future generations. One of the contributing factors is mothers' limited knowledge of nutrition before, during, and after pregnancy. Health education on providing nutritious food from local ingredients such as mustard greens and catfish is a promotive and preventive strategy to improve mothers' knowledge as an initial step toward supporting optimal toddler growth and development. This community service activity aimed to improve mothers' knowledge of providing nutritious food from mustard greens and catfish as an effort to support toddler growth and development. The activity was conducted in May 2026, delivering material through leaflets and PowerPoint presentations, followed by a food-preparation demonstration and the distribution of processed dishes made from mustard greens and catfish to 35 mothers at Posyandu Melati, Tertek Village. Evaluation was carried out through a question-and-answer discussion; results showed that all participants were actively engaged and that mothers' understanding of providing nutritious food improved after the health education session. This improvement in knowledge serves as an early indicator of the activity's success, while its impact on optimal toddler growth and development requires further monitoring and continued support. Health education based on affordable, locally available food is a viable strategy that should continue to be developed and replicated to support the reduction of stunting rates.</em></p> Susanti Tria Jaya, Fresty Aficia Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/512 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 UPAYA PROMOTIF DAN PREVENTIF MELALUI EDUKASI PENCEGAHAN PENYAKIT TIDAK MENULAR PADA KELOMPOK USIA REMAJA https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/514 <p>Kesehatan pemuda bangsa menjadi aspek penting dalam upaya meningkatkan peran mereka mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia. Salah satu hal yang menjadi ancaman bagi kesehatan pemuda Indonesia pada saat ini adalah adanya penyakit tidak menular (PTM). PTM bersifat tidak menular dari orang ke orang namun menjadi penyakit kronis yang akan terus meningkat di seluruh dunia, khususnya pada negara berkembang dan negara miskin. Penyakit tidak menular (PTM) telah menjadi isu penting dalam agenda <em>Sustainable Development Goals</em> (SDGs) 2030, dan menjadi prioritas dalam pembangunan di berbagai negara. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya PTM meliputi faktor risiko yang tidak dapat dikendalikan, seperti umur dan jenis kelamin, serta faktor risiko yang dapat dikendalikan, seperti pola hidup tidak sehat. Dari hasil analisa awal ditemukan permasalahan mitra yaitu banyaknya para remaja yang memiliki kebiasaan minum minuman manis, diet rendah serat dan aktivitas fisik yang kurang. Berdasarkan hal tersebut maka, tujuan kegiatan ini adalah memberikan edukasi terkait upaya promotif preventif dalampencegahan PTM pada remaja. Metode pengabdian masyarakat yang diberikan adalah dengan pemberian Edukasi dengan metode ceramah dan media PPT tentang Pencegahan Penyakit Tidak Menular Pada Remaja . Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada Hari Sabtu, 7 Februari 2026 di Posyandu Remaja Gemilang dengan jumlah peserta sebanyak 42 orang. Hasil dari pengabdian masyarakat ini didapatkan peningkatan skor pengetahuan peserta dari kategori baik pre edukasi sebesar 19 % meningkat menjadi 59,5% kategori baik post edukasi tentang Pencegahan penyakit Tidak Menular pada remaja. Edukasi tentang pencegahan penyakit tidak menular ini sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya penyakit tidak menular pada masa yang akan datang, beberapa indakan yang harus dilakukan oleh remaja adalah mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang, mengurangi asupan gula, makan buah dan sayur, olahraga, istirahat dan menjaga kebersihan diri.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The health of the nation's youth is a crucial aspect of enhancing their role in upholding Indonesia's sovereignty. Currently, non-communicable diseases (NCDs) pose a significant threat to the health of Indonesian youth. Although NCDs do not spread from person to person, they are chronic conditions with a rising global prevalence, particularly in developing and low-income nations. NCDs have become a key issue within the 2030 Sustainable Development Goals (SDGs) agenda and a priority for development across many countries. Factors contributing to NCDs include uncontrollable risks—such as age and gender—and controllable risks, such as unhealthy lifestyles. Preliminary analysis identified specific issues among the target group, including a high prevalence of sugary drink consumption, low-fiber diets, and insufficient physical activity. Consequently, this initiative aimed to provide education on health promotion and preventive measures regarding NCDs among adolescents. The community service activity utilized a lecture-based educational approach supported by PowerPoint presentations focused on NCD prevention. The event took place on Saturday, February 7, 2026, at the *Posyandu Remaja Gemilang* (Adolescent Integrated Health Post) with 42 participants. Results showed an improvement in participants' knowledge scores: the percentage of participants in the "good" category rose from 19% pre-education to 59.5% post-education. Education on NCD prevention is vital for averting these diseases in the future; key actions adolescents should take include consuming a nutritionally balanced diet, reducing sugar intake, eating fruits and vegetables, exercising, getting adequate rest, and maintaining personal hygiene.</em></p> Dwi Rahayu, Erni Rahmawati Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/514 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN IBU BALITA DALAM PENANGANAN CHOKING MELALUI EDUKASI DAN DEMONSTRASI DI POSYANDU ILP SEROJA PUSKESMAS SUKORAME KOTA KEDIRI https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/491 <p>Tersedak (<em>choking</em>) pada anak merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera karena dapat menyebabkan gangguan jalan napas hingga kematian apabila tidak ditangani dengan tepat. Berdasarkan hasil wawancara awal, diketahui bahwa pengetahuan ibu balita mengenai penanganan <em>choking</em> masih rendah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam penanganan <em>choking</em> setelah diberikan edukasi dan demonstrasi. Metode yang digunakan adalah edukasi melalui penyuluhan dan demonstrasi praktik penanganan <em>choking</em>. Kegiatan dilaksanakan di Posyandu ILP Seroja, Puskesmas Sukorame, Kota Kediri, dengan melibatkan seluruh ibu balita sebagai peserta. Jumlah sampel sebanyak 18 orang yang dipilih menggunakan teknik <em>total sampling</em>. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em>, sedangkan keterampilan dinilai melalui lembar observasi praktik. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan kurang (61,1%) dan keterampilan kurang (72,2%). Setelah diberikan edukasi dan demonstrasi, sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan baik (77,8%) dan keterampilan baik (83,3%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai <em>p</em> = 0,000 (<em>p</em> &lt; 0,05), yang menunjukkan bahwa edukasi dan demonstrasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam penanganan <em>choking</em>. Kegiatan edukasi dan demonstrasi terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan ibu balita dalam memberikan pertolongan pertama pada kasus tersedak. Program edukasi serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menangani keadaan kegawatdaruratan pada anak serta mencegah kematian akibat keterlambatan penanganan tersedak.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Choking in children is a medical emergency that requires immediate management because it can cause airway obstruction and lead to death if not treated promptly and appropriately. Based on the preliminary interviews, the knowledge of mothers with toddlers regarding choking management was still inadequate. This community service program aimed to analyze the improvement in mothers' knowledge and skills regarding choking management following an educational intervention and practical demonstration.</em></p> <p><em>The intervention consisted of health education through lectures and demonstrations of choking first-aid techniques. The program was conducted at ILP Seroja Integrated Health Post (Posyandu), Sukorame Public Health Center, Kediri City, involving all mothers of toddlers as participants. A total of 18 participants were recruited using a total sampling technique. Knowledge was assessed using pre-test and post-test questionnaires, while skills were evaluated through an observational checklist during practical sessions. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test.</em></p> <p><em>The results showed that before the intervention, most participants had poor knowledge (61.1%) and poor skills (72.2%) in managing choking. Following the educational intervention and practical demonstration, the majority of participants demonstrated good knowledge (77.8%) and good skills (83.3%). The Wilcoxon signed-rank test revealed a statistically significant improvement in both knowledge and skills (p = 0.000; p &lt; 0.05), indicating that the educational intervention and demonstration effectively enhanced mothers' competence in choking management.</em></p> <p><em>Educational sessions combined with practical demonstrations were effective in improving mothers' preparedness to provide first aid for choking incidents in children. Similar community-based educational programs are recommended to be implemented continuously to strengthen community capacity in managing pediatric emergencies and to prevent child mortality resulting from delayed choking management.</em></p> sri haryuni, Erik Irham Lutfi, Susmiati, Moh. Alimansur, Ani Sutriningsih Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/491 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENGELOLAAN KECERDASAN EMOSIONAL SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PHUBBING & SMOMBIE PADA SISWA SEKOLAH DASAR (PRA-REMAJA USIA 10-12 TAHUN) DI MI MUHAMMADIYAH 1 PARE-KEDIRI https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/469 <p><strong>Pendahuluan : </strong>Di era digital ini, remaja rentan terhadap perilaku <em>phubbing </em>(mengabaikan orang lain demi ponsel) dan menjadi <em>smombie </em>(berjalan tanpa memperhatikan sekitar karena fokus pada ponsel). Phubbing dapat membuat seseorang tidak dapat mengontrol emosinya. Perilaku ini merusak hubungan sosial, mengurangi interaksi tatap muka, dan meningkatkan risiko kecelakaan. Rendahnya kecerdasan emosional dianatranya (Mengenali dan memahami emosi diri sendiri, memotivasi, dan membangun hubungan sosial yg sehat) diduga menjadi salah satu faktor penyebabnya, karena remaja kesulitan mengelola perasaan dan berempati terhadap orang lain. <strong>Tujuan : </strong>Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan <em>phubbing &amp; smombie </em>pada siswa sekolah dasar (pra-remaja usia 10-12) di MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. <strong>Metode : </strong>metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pendekatan partisipatif, dengan melibatkan siswa kelas 3, 4 dan 5 dalam pelaksanaan program pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan <em>phubbing</em> dan <em>smombie</em>. <strong>Hasil </strong>: Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan. Sebelum diberikan edukasi dan latihan pengelolaan kecerdasan emosional, pengelolaan kecerdasan emosional pada siswa kelas 3, 4 dan 5 adalah (25%). Sedangkan setelah diberikan edukasi dan pelatihan tentang pengelolaan kecerdasan emosional sebagai upaya pencegahan <em>pubbing &amp; smombie </em>meningkat sejumlah (70%). Hal ini mengindikasikan bahwa edukasi dan pelatihan pengelolaan kecerdasan emosional yang diberikan efektif dalam pengelolaan kecerdasan emosional dan pencegahan perilaku <em>pubbing dan smombie </em>di MI Muhammadiyah 1 Pare-kediri. <strong>Kesimpulan </strong>: Pengelolaan kecerdasan emosional terbukti efektif sebagai upaya pencegahan <em>pubbing </em>dan<em> smombie</em>. Saran : Disarankan untuk mengembangkan program edukasi dan pelatihan serupa dengan cakupan yang lebih luas dan metode yang lebih variatif.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><strong><em>Introduction</em></strong><em>: In this digital era, adolescents are vulnerable to "phubbing" (ignoring others in favor of a mobile phone) and becoming "smombies" (walking without paying attention to surroundings due to phone focus). Phubbing can impair emotional control. Such behavior damages social relationships, reduces face-to-face interaction, and increases accident risks. Low emotional intelligence—specifically regarding recognizing and understanding one's own emotions, self-motivation, and building healthy social relationships—is suspected to be a contributing factor, as adolescents struggle to manage feelings and empathize with others. <strong>Objective</strong>: This community service initiative aimed to analyze the effectiveness of emotional intelligence management in preventing phubbing and smombie behaviors among elementary school students (pre-adolescents aged 10–12) at MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. <strong>Method</strong>: A participatory approach was employed, involving students from grades 3, 4, and 5 in a program designed to foster emotional intelligence as a preventive measure against phubbing and smombie behaviors. <strong>Results</strong>: Significant improvements were observed. Prior to the education and training on emotional intelligence, the level of emotional intelligence among students in grades 3, 4, and 5 stood at 25%. Following the intervention—which focused on emotional intelligence to prevent phubbing and smombie behaviors—this figure rose to 70%. These results indicate that the provided education and training were effective in fostering emotional intelligence and preventing phubbing and smombie behaviors at MI Muhammadiyah 1 Pare-Kediri. Conclusion: Emotional intelligence management proved effective as a preventive measure against phubbing and smombie behaviors. Recommendation: It is recommended to develop similar education and training programs with a broader scope and more varied methods</em></p> Iva Milia Hani Rahmawati, Zulvana, Fresty Africia, Asrina Pitayanti Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/469 Fri, 10 Jul 2026 00:00:00 +0700 SOSIALISASI GIZI DALAM PENCEGAHAN GAGAL GINJAL AKUT PADA REMAJA BAGI SISWA PMR DI SMA NEGERI 1 PAPAR KABUPATEN KEDIRI https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/504 <h2>Abstrak</h2> <p>Kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang menjadi sendi kokohnya suatu bangsa serta menjadi modal dasar untuk penguatan kualitas sumber daya manusia. Penguatan derajat kesehatan menjadi salah satu pilar utama untuk keberlanjutan pembangunan suatu masyarakat, termasuk masyarakat di Kabupaten Kediri. Penyakit gagal ginjal merupakan penyebab kematian ke-10 di Indonesia yaitu 42.000 per tahun. Data medis terbaru menunjukkan lonjakan kasus gangguan fungsi ginjal yang signifikan pada kelompok usia remaja. Remaja memiliki perilaku jajanan yang berisiko, yaitu jajanan yang tinggi gula, garam dan lemak yang mempengaruhi status gizi dan menjadi faktor resiko penyakit tidak menular di masa depan.</p> <p>Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan mulai pada tanggal 22 – 29 Mei 2026, yang diawali dengan tahapan persiapan (survey lapangan sampai perizinan), dan diakhiri dengan kegiatan evaluasi (monitoring dan evaluasi kinerja). Adapun pelaksanaan kegiatan bersama siswa ini dilaksanakan satu hari ditanggal 28 mei 2026. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk membekali anggota PMR di SMA Negeri I Papar Kabupaten Kediri, dengan pengetahuan komprehensif mengenai hubungan antara pola makan (gizi) dengan kesehatan ginjal. Pendekatan yang digunakan adalah partisipasif dengan sasaran sejumlah 27 siswa. Dari 27 siswa yang hadir, semuanya memperhatikan dan aktif dalam kegiatan. Metode yang digunakan dengan cara memberikan materi terkait bahaya penyakit gagal ginjal serta pencegahannya. Hasil akhir yang didapatkan adalah peningkatan pengetahuan remaja tentang perubahan perilaku jajanan yang berisiko, yaitu jajanan yang tinggi gula, garam dan lemak sebagai pemicu penyakit gagal ginjal. Melalui kegiatan ini, siswa PMR diharapkan mampu mengidentifikasi, menerapkan dan menyebarluaskan kepada teman-teman sebaya. Dengan kegiatan ini, didapatkan pengetahuan siswa yang meningkat dalam penerapan pola makan yang sehat dan bergizi seimbang untuk mencegah penyakit ginjal kronis dikemudian hari, sehingga remaja Indonesia menjadi remaja yang berkualitas.</p> <p>Kata kunci: Sosialisasi, Gizi, Gagal ginjal, Remaja.</p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Health is a crucial aspect that underpins the strength of a nation and serves as the foundation for strengthening the quality of human resources. Improving health is a key pillar for the sustainable development of any community, including those in Kediri Regency. Kidney failure is the tenth leading cause of death in Indonesia, with 42,000 deaths per year. Recent medical data shows a significant surge in cases of impaired kidney function among adolescents. Adolescents engage in risky snacking behaviors, particularly those high in sugar, salt, and fat, which impact nutritional status and pose a risk factor for non-communicable diseases in the future.</em></p> <p><em>This series of activities took place from May 22 to May 29, 2026, beginning with a preparatory phase (ranging from field surveys to obtaining permits) and concluding with an evaluation phase (performance monitoring and assessment). The specific session involving students was held on May 28, 2026. The activity aimed to equip members of the Red Cross Youth (PMR) at SMA Negeri 1 Papar, Kediri Regency, with comprehensive knowledge regarding the link between dietary habits (nutrition) and kidney health. A participatory approach was employed, targeting a group of 27 students; all attendees paid close attention and actively participated in the proceedings. The method involved presenting information on the dangers of kidney failure and strategies for its prevention. The outcome was an increase in the adolescents' knowledge regarding the need to change risky snacking habits—specifically, the consumption of snacks high in sugar, salt, and fat, which are known triggers for kidney failure. Through this initiative, PMR students are expected to be able to identify healthy practices, adopt them, and share this knowledge with their peers. Ultimately, the activity fostered greater student understanding of how to maintain a healthy, balanced diet to prevent chronic kidney disease later in life, thereby helping to cultivate high-quality Indonesian youth.</em></p> <p><strong><em> </em></strong><em>Keywords<strong>:</strong> Socialization, Nutrition, Kidney failure, Adolescents.</em></p> Nurin Fauziah Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/504 Tue, 14 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENDIDIKAN KESEHATAN PENGENALAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT MELALUI VIDEO ANIMASI PADA ANAK USIA DINI https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/509 <p><strong>Abstrak</strong> </p> <p>Anak usia dini sangat rentan mengalami diare dan ISPA akibat kebiasaan yang kurang menjaga kebersihan seperti cara cuci tangan 6 langkah dan gosok gigi yang benar. Pendidikan kesehatan mengenai perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak usia dini sangat penting untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini. Penggunaan video animasi memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode yang lain yaitu menampilkan unsur audio, visual dan gerak secara efektif sehingga mampu meningkatkan daya ingat dan ketertarikan anak usia dini. Tujuan pengabdian ini adalah untuk memberikan edukasi mengenalkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan video animasi pada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah dengan memberikan edukasi mengenai cara cuci tangan dan gosok gigi yang benar dengan video animasi kepada siswa-siswi TK ABA X Bendo sejumlah 40 siswa. Media yang digunakan dalam kegiatan ini berupa laptop, proyektor, pengeras suara, alat peraga untuk cuci tangan 6 langkah (sabun cair dan tisu) dan alat peraga gosok gigi (phantom gigi dan sikat gigi). Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 17 April 2026. Kegiatan ini meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Evaluasi kegiatan dengan melakukan pretest dan postest secara lisan dengan pertanyaan singkat. Sebelum diberikan edukasi dengan video animasi sebagian besar pengetahuan siswa tentang cara mencuci tangan 6 langkah dan gosok gigi yang benar masih kurang yaitu 20 siswa (50%). Hasil setelah diberikan edukasi sebagian besar pengetahuan siswa tentang cara cuci tangan 6 langkah dan gosok gigi dalam kategori baik yaitu 25 siswa (62,5%). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini sangat penting dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat sehingga terhindar dari penyakit. Penggunaan video animasi sebagai media edukasi sangat membantu siswa dalam memahami pesan yang disampaikan karena lebih menarik dan bisa melihat gambaran secara visual dan audio secara bersamaan. Kegiatan ini perlu dilakukan secara rutin untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat sejak dini.</p> <p>Kata kunci : Video Animasi, Cuci Tangan, Gosok Gigi</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Young children are very susceptible to diarrhea and respiratory infections due to habits that do not maintain proper hygiene, such as the six-step handwashing method and correct tooth brushing. Health education about clean and healthy living behaviors for young children is very important to instill these habits from an early age. Using animated videos has advantages over other methods, as it effectively combines audio, visual, and motion elements, which can help improve memory and interest in young children. The goal of this program is to provide education introducing clean and healthy living behaviors through animated videos to young children. The method used in this activity is to provide education about proper handwashing and tooth brushing through animated videos to 40 students at TK ABA X Bendo. The media used in this activity include a laptop, projector, speaker, and teaching aids for handwashing (liquid soap and tissues) and tooth-brushing teaching tools (tooth phantom and toothbrush). This activity was carried out on April 17, 2026. The activity included planning, implementation, and evaluation stages. The evaluation was done by conducting oral pretest and posttest with short questions. Before being educated using an animation video, most students' knowledge about the 6-step handwashing method and proper tooth brushing was still lacking, with 20 students (50%). After the education, most students' knowledge about the 6-step handwashing method and tooth brushing was in the good category, with 25 students (62.5%). This community service activity is very important to carry out as an effort to improve clean and healthy living behavior to avoid disease. The use of animation videos as an educational medium greatly helps students understand the messages delivered because it is more engaging and allows them to see both visual and audio representations at the same time. This activity needs to be done regularly to get used to clean and healthy living habits from an early age.</em></p> <p><em>Keywords : Animated Video, Hand Washing, Brushing Teeth</em></p> Lina Ratnawati, Nunik Ike Yunia Sari Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/509 Tue, 14 Jul 2026 00:00:00 +0700 PENGUATAN LINGKUNGAN, RUMAH SEHAT DAN KADER SIAGA TBC BERBASIS LINGKUNGAN PASCA PEMBANGUNAN DRAINASE LIMBAH RUMAH TANGGA https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/516 <p><strong>Abstrak</strong> </p> <p>Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi tidak hanya oleh faktor klinis, tetapi juga oleh kondisi lingkungan dan kualitas hunian. Lingkungan RT 22 RW 02 Desa Sembayat, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresikmerupakan Kawasan padat penduduk dengan mayoritas penduduk bekerja sebagai petani tambak dan pedagang. Pada pengabdian Masyarakat tahun lalu, pembangunan drainase limbah rumah tangga telah dilakukan, namun pemanfaatan dan pemeliharaannya belum optimal. Selain itu, kondisi permukiman yang padat dengan ventilasi dan pencahayaan rumah yang terbatas meningkatkan risiko penularan TBC. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat lingkungan sehat, rumah sehat, dan kader siaga TBC berbasis lingkungan pasca pembangunan drainase limbah rumah tangga. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui rembug warga, sosialisasi, penyuluhan, pelatihan kader, serta pendampingan masyarakat. Program dilaksanakan dengan tiga komponen utama, yaitu penyusunan modul rumah sehat bebas TBC, optimalisasi pemeliharaan drainase limbah rumah tangga, dan pembentukan kader siaga TBC berbasis lingkungan yang dilengkapi dengan buku monitoring, checklist rumah sehat, dan formulir deteksi dini. Pada saat kegiatan dihadiri oleh 10 calon kader dan 5 tokon Masyarakat, serta 10 perwakilan warga. Hasil kegiatan dan evaluasi menunjukkan adanya kesepahaman warga dan kader mengenai pentingnya pemeliharaan drainase, rumah sehat, serta pencegahan TBC berbasis lingkungan. Program ini juga menghasilkan perangkat edukasi dan monitoring yang dapat mendukung keberlanjutan upaya promotif dan preventif di masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa penguatan lingkungan, rumah sehat, dan kader siaga TBC merupakan strategi yang relevan untuk mendorong perubahan perilaku kolektif dan memperkuat pencegahan TBC di tingkat komunitas.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> tuberkulosis, rumah sehat, drainase limbah, kader siaga TBC, pengabdian masyarakat</p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Tuberculosis (TB) remains a public health issue influenced not only by clinical factors but also by environmental conditions and housing quality. The RT 22 RW 02 area in Sembayat Village, Manyar District, Gresik Regency, is a densely populated zone where most residents work as fishpond farmers and traders. While a household wastewater drainage system was constructed during a previous community service project, its utilization and maintenance have not yet been optimized. Furthermore, the dense settlement conditions—characterized by limited home ventilation and natural lighting—increase the risk of TB transmission. This community service initiative aims to foster a healthy environment and healthy homes, as well as establish community-based TB-alert cadres, following the drainage system's construction. The implementation employed a participatory approach involving community discussions, awareness-raising sessions, health education, cadre training, and community mentoring. The program comprised three main components: developing a module on TB-free healthy homes, optimizing household wastewater drainage maintenance, and establishing community-based TB-alert cadres equipped with monitoring logs, healthy home checklists, and early detection forms. The activity was attended by 10 prospective cadres, 5 community leaders, and 10 resident representatives. Results and evaluations indicate a shared understanding among residents and cadres regarding the importance of drainage maintenance, healthy housing, and community-based TB prevention. The program also produced educational and monitoring tools to support the sustainability of health promotion and prevention efforts within the community. In conclusion, strengthening the environment, promoting healthy homes, and establishing TB-alert cadres constitute a relevant strategy for driving collective behavioral change and bolstering TB prevention at the community level.</em></p> <p><strong><em>Keywords</em></strong><em>: tuberculosis, healthy home, wastewater drainage, TB-alert cadre, community service</em></p> Dyah Ika Krisnawati, Muhamad Khafid, M Shodiq Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/516 Tue, 14 Jul 2026 00:00:00 +0700