Jurnal Abdimas Pamenang
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap
<p style="text-align: justify; background: white;">Jurnal Abdimas Pamenang (JAP) merupakan publikasi ilmiah enam bulanan yang diterbitkan oleh STIKES PAMENANG Kediri. Jurnal Abdimas Pamenang menyajikan informasi dan kajian ilmiah hasil pengabdian masyarakat pada lingkup keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan issu-issu terkini terkait masalah kesehatan masyarakat.</p> <p style="text-align: justify; background: white;">Redaksi Jurnal Abdimas Pamenang menerima karya ilmiah hasil pengabdian masyarakat dari bidang keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan kesehatan masyarakat dari para intelektual, praktisi, mahasiswa serta siapa saja untuk menulis dan berbagi hasil pengabdian masyarakat maupun pemikiran secara bebas, kritis, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Seluruh artikel yang masuk akan melalui proses review oleh para reviewer dengan bidang kepakaran yang relevan.</p>STIKES Pamenang Kedirien-USJurnal Abdimas Pamenang2988-327XPENURUNAN NYERI PADA PASIEN POST EPISIOTOMI DENGAN MENGGUNAKAN KOMPRES DINGIN DI KLINIK SAHARA KOTA PASURUAN
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/355
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Persalinan merupakan proses alami yang dihadapi oleh ibu hamil, di mana pengeluaran bayi dan plasenta dari rahim dapat menyebabkan tekanan pada jaringan perineum. Tindakan episiotomi dilakukan untuk mencegah robekan perineum yang lebih parah, namun dapat menimbulkan nyeri yang mempengaruhi kenyamanan ibu. <strong>Tujuan:</strong> Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu post episiotomi dengan masalah nyeri serta menilai efektivitas kompres dingin dalam menurunkan nyeri setelah tindakan episiotomi. <strong>Metode:</strong> Pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui metode penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada 20 orang ibu post episiotomi dengan menggunakan media leaflet yang berisikan informasi mengenai episiotomi dan penggunaan kompres dingin. Selain edukasi, dilakukan praktik langsung penggunaan kompres dingin sebagai intervensi. <strong>Hasil:</strong> Pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa sebanyak 80% peserta mengalami penurunan nyeri menjadi kategori ringan setelah intervensi. Selain itu, 85% peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan yang baik terkait manajemen nyeri post episiotomi. <strong>Kesimpulan:</strong> Kompres dingin terbukti efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada pasien post episiotomi. Intervensi ini merupakan alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan mudah diterapkan untuk mendukung kenyamanan ibu selama masa pemulihan. Dengan penerapan kompres dingin dapat membantu mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan kualitas hidup ibu pascapersalinan.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Childbirth is a natural process faced by pregnant women, where the release of the baby and placenta from the uterus can cause pressure on the perineal tissue. Episiotomy is performed to prevent more severe perineal tears, but can cause pain that affects the mother's comfort. <strong>Objective:</strong> This community service aims to increase the knowledge of post-episiotomy mothers with pain problems and assess the effectiveness of cold compress in reducing pain after episiotomy. <strong>Method:</strong> This community service was carried out through a health education or counseling method to 20 post-episiotomy mothers using leaflets containing information about episiotomy and the use of cold compress. In addition to education, direct practice of using cold compresses as an intervention was carried out. <strong>Results:</strong> This community service showed that 80% of participants experienced a decrease in pain to the mild category after the intervention. In addition, 85% of participants showed a good increase in knowledge regarding post-episiotomy pain management. <strong>Conclusion:</strong> Cold compress have been proven effective in reducing pain intensity in post-episiotomy patients. This intervention is a safe and easy-to-implement non-pharmacological therapy alternative to support maternal comfort during recovery. The application of cold compress can help speed up the healing process and improve the quality of life of postpartum mothers.</em></p>Abidatun Nafi'aR.A Helda PuspitasariSyaifuddin KurniantoErik Kusuma
Copyright (c) 2025 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-08411510.53599/jap.v4i1.355EFEKTIVITAS EDUKASI KESEHATAN DAN TERAPI PIJAT LAKTASI DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN MENGURANGI PERMASALAHAN MENYUSUI TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN MASTITIS DI KLINIK SAHARA KOTA PASURUAN
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/363
<p><strong>Latar Belakang:</strong> Menyusui tidak efektif merupakan masalah yang sering dialami oleh ibu postpartum dan dapat menyebabkan komplikasi seperti mastitis, yaitu peradangan pada jaringan payudara yang menimbulkan nyeri dan ketidaknyamanan. <strong>Tujuan:</strong> Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu postpartum tentang terapi pijat laktasi dalam mengatasi masalah menyusui tidak efektif pada pasien mastitis. <strong>Metode:</strong> Pengabdian dilaksanakan di Klinik Sahara Kota Pasuruan dengan sasaran 20 ibu postpartum yang mengalami menyusui tidak efektif, termasuk 5 orang dengan mastitis. Metode pelaksanaan meliputi ceramah, diskusi, dan demonstrasi langsung terapi pijat laktasi. <strong>Hasil:</strong> Hasil pengabdian menunjukkan peningkatan signifikan terhadap pengetahuan ibu menyusui mengenai terapi pijat laktasi, dengan tingkat pemahaman mencapai 80% setelah edukasi. Peserta menunjukkan antusiasme dan partisipasi aktif selama kegiatan berlangsung. Pemberian edukasi yang tepat dan informasi yang akurat mengenai manfaat pijat laktasi terbukti meningkatkan pemahaman ibu dalam mengatasi kesulitan menyusui akibat mastitis. <strong>Kesimpulan:</strong> Terapi pijat laktasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu postpartum mengenai upaya mengatasi menyusui tidak efektif akibat mastitis. Pijat laktasi dapat dijadikan alternatif terapi nonfarmakologis yang aman dan bermanfaat dalam mendukung keberhasilan menyusui serta kesehatan ibu dan bayi.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><strong><em>Background:</em></strong><em> Ineffective breastfeeding is a common problem experienced by postpartum mothers and may lead to complications such as mastitis, which is an inflammation of breast tissue that causes pain and discomfort. <strong>Objective:</strong> This community service activity aimed to improve postpartum mothers’ knowledge about lactation massage therapy in overcoming ineffective breastfeeding among patients with mastitis. <strong>Methods:</strong> The activity was conducted at Sahara Clinic, Pasuruan City, involving 20 postpartum mothers who experienced ineffective breastfeeding, including 5 mothers diagnosed with mastitis. The implementation methods included lectures, discussions, and direct demonstrations of lactation massage techniques. <strong>Results:</strong> The results showed a significant improvement in mothers’ knowledge about lactation massage therapy, with the level of understanding reaching 80% after the educational session. Participants demonstrated enthusiasm and active participation throughout the activity. Providing accurate information and proper education about the benefits of lactation massage proved effective in increasing mothers’ understanding of how to overcome breastfeeding difficulties caused by mastitis. <strong>Conclusion:</strong> Lactation massage therapy is effective in improving postpartum mothers’ knowledge about efforts to overcome ineffective breastfeeding due to mastitis. It can serve as a safe and beneficial non-pharmacological alternative therapy to support successful breastfeeding and promote maternal and infant health.</em></p>Anisatuz ZahrohR. A Helda PuspitasariSyaifuddin KurniantoErik Kusuma
Copyright (c) 2025 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-084161110.53599/jap.v4i1.363KOMUNITAS SADAR TORCH SEBAGAI STRATEGI EDUKASI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN ABNORMALITAS JANIN
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/434
<p>Infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes Simplex Virus) merupakan masalah kesehatan reproduksi yang berisiko tinggi menyebabkan abnormalitas janin, seperti kelainan kongenital, keguguran, dan keterlambatan tumbuh kembang. Rendahnya literasi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pesisir dengan akses pelayanan terbatas, menjadi tantangan utama dalam pencegahan. Program <em>TORCH-Aware Community</em> dikembangkan sebagai upaya penguatan kapasitas komunitas melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat agar mampu mengenali risiko, melakukan pencegahan, dan berperan aktif dalam menjaga kesehatan reproduksi. Kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, pada bulan Juni 2025 dengan melibatkan 45 peserta yang terdiri atas perempuan usia subur, ibu rumah tangga, dan keluarga muda. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan <em>community organizing</em> yang melibatkan perangkat desa, kader kesehatan, dan dosen pendamping dalam perencanaan dan pelaksanaan. Edukasi dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, pemutaran video animasi, serta distribusi leaflet dan infografis. Evaluasi hasil dilakukan melalui <em>pre-test</em> dan <em>post-test</em>serta observasi keterlibatan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta lebih dari 50% dan munculnya perilaku positif seperti pemeriksaan kehamilan rutin dan dukungan keluarga terhadap kesehatan ibu hamil. Program ini efektif meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai infeksi TORCH dan berpotensi direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Rekomendasi ke depan adalah perlunya keberlanjutan program melalui integrasi materi TORCH ke dalam kegiatan posyandu dan pelatihan kader desa.</p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p><em>TORCH infections (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, and Herpes Simplex Virus) remain a major reproductive health problem that can cause serious fetal abnormalities, including congenital defects, miscarriage, and developmental delays. Low levels of health literacy, particularly in coastal communities with limited access to health services, increase these risks. The TORCH-Aware Community program was developed to strengthen community capacity through education and empowerment, enabling people to recognize risk factors, implement preventive measures, and play an active role in protecting maternal and fetal health. This program was implemented in Karanganyar Village Hall, Paiton Subdistrict, Probolinggo Regency, in May 2025, involving 45 participants consisting of women of reproductive age, housewives, and young families. Using a community organizing approach, local authorities, health cadres, and academic facilitators collaborated from the planning to the implementation stages. Educational activities included interactive lectures, group discussions, animated videos, and the distribution of leaflets and infographics. Program evaluation was carried out through pre- and post-tests as well as participant observation. The results showed a knowledge improvement of more than 50% across all aspects and behavioral changes such as routine antenatal care visits and increased family support for pregnant women. The TORCH-Aware Community effectively enhanced reproductive health literacy and promoted preventive behaviors. It is recommended that this program be sustained through the integration of TORCH education into village health activities and cadre training to ensure long-term impact</em>.</p>Harwin Holilah DesyantiDelatul UmmahSayyidah SayyidahDewi Dewi
Copyright (c) 2025 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841121910.53599/jap.v4i1.434PERAWATAN PAYUDARA SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI PRODUKSI DAN PENGELUARAN ASI PADA MASA NIFAS
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/436
<p>Masa nifas merupakan periode penting bagi pemulihan kondisi ibu setelah melahirkan serta keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Salah satu faktor yang memengaruhi kelancaran produksi dan pengeluaran ASI adalah praktik perawatan payudara yang benar. Perawatan payudara yang tepat dapat membantu melancarkan aliran ASI, mencegah sumbatan pada saluran susu, mengurangi risiko mastitis, serta merangsang refleks oksitosin yang berperan dalam pengeluaran ASI. Namun, sebagian ibu nifas masih memiliki pengetahuan dan keterampilan yang kurang dalam melakukan perawatan payudara dengan benar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu nifas dalam melakukan perawatan payudara sebagai upaya mendukung optimalisasi produksi ASI. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 17-30 Januari 2025 di Ruang Nifas Rumah Sakit X Kota Blitar dengan melibatkan empat orang ibu nifas (primipara maupun multipara). Pelaksanaan kegiatan terdiri dari empat tahap, yaitu identifikasi masalah, penyuluhan kesehatan, demonstrasi teknik perawatan payudara, dan evaluasi. Media edukasi yang digunakan meliputi leaflet dan alat perawatan payudara seperti handuk, waslap, baby oil, serta baskom berisi air hangat dan dingin. Evaluasi dilakukan melalui observasi dan wawancara untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan, dimana sebelum penyuluhan 75% peserta berada pada kategori cukup, dan setelah penyuluhan 100% peserta berada pada kategori baik. Penyuluhan kesehatan disertai praktik langsung dan pendampingan terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan ibu nifas melakukan perawatan payudara serta menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya dukungan keluarga dan tenaga kesehatan dalam keberhasilan menyusui.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>The postpartum period is a crucial phase for maternal recovery and the success of exclusive breastfeeding. One key factor influencing the smooth production and release of breast milk is proper postnatal breast care. Correct breast care practices help facilitate milk flow, prevent blocked ducts, reduce the risk of mastitis, and stimulate the oxytocin reflex that aids milk ejection. However, many postpartum mothers lack adequate knowledge and skills in performing breast care correctly. This community service program aimed to improve postpartum mothers’ knowledge and abilities in conducting appropriate breast care to support optimal breast milk production. The activity was implemented on January 17</em><em>-30</em><em>, 2025, in the Postpartum Room of Hospital X, Blitar City, involving four postpartum mothers (both primiparous and multiparous). The intervention was conducted in four stages: problem identification, health education, demonstration of breast care techniques, and evaluation. Educational media included leaflets and breast care tools such as towels, washcloths, baby oil, and basins with warm and cold water. Evaluation was carried out through observation and interviews to measure improvements in knowledge and practical skills. The results showed an increase in knowledge and skills: prior to the session, 75% of participants were in the adequate category, and afterward, 100% reached the good category. Health education combined with demonstrations and mentoring proved effective in enhancing mothers’ abilities and promoting behavioral change. This activity also raised collective awareness about the importance of family and healthcare worker support in ensuring successful breastfeeding during the postpartum period.</em></p>PERTIWI PERWIRANINGTYASTheresia Yenearis InyaVemi Roslince MesaYelnita YelnitaYustin Bili
Copyright (c) 2025 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841202710.53599/jap.v4i1.436REMBUG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN UNTUK PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DI DESA MINGGIRSARI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KANIGORO KABUPATEN BLITAR
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/423
<p>Stunting menjadi permasalahan gizi bagi anak yang disebabkan karena tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhan zat gizi yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. Tujuan pengabdian ini mengadakan urun rembug dalam pemberian makanan tambahan untuk percepatan penurunan stunting pada anak. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dimulai koordinasi dengan pihak-pihak terkait, jawal pembagian olahan inovasi PMT untuk Balita, dan mengadakan rembug percepatan penurunan stunting pada anak-anak. Media yang digunakan yaitu power point, laptop, mic, dan LCD. Kegiatan ini dilaksanakan di Papringan desa Minggirsari Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar pada tanggal 04-09 September 2025. Sasaran kegiatan adalah kepala desa, pendamping desa, bidan desa, perwakilan ibu PKK, kader desa dan bidan koordinator Puskesmas Kanigoro sebanyak 41 orang. Hasil yang didapatkan diperoleh kesepakatan bahwa kader merupaya untuk mengaktifkan ibu balita membawa anaknya ke posyandu untuk skrining stunting, pelaksanaan inovasi PMT oleh pihak yang terkait, dokumentasi terkumpul sebagai dasar penyusunan laporan.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Stunting has become a nutritional problem for children caused by an imbalance in the fulfillment of nutritional needs obtained from the food consumed. The purpose of this community service is to hold discussions in providing additional food to accelerate the reduction of stunting in children. This community service activity has been carried out starting from coordination with related parties, scheduling the distribution of processed PMT innovations for toddlers, and holding discussions to accelerate the reduction of stunting in children. The media used are power points, laptops, mics, and LCDs. This activity was carried out in Papringan, Minggirsari Village, Kanigoro District, Blitar Regency on </em><em>Sept</em><em> 4-9, 2025. The targets of the activity were village heads, village assistants, village midwives, representatives of PKK mothers, village cadres and midwives coordinating the Kanigoro Health Center totaling 41 people. The results obtained were an agreement that cadres strive to activate mothers of toddlers to bring their children to the integrated health post for stunting screening, the implementation of PMT innovations by related parties, documentation collected as a basis for compiling reports.</em></p>Wahyu NuraisyaDewi Nufita RachmawatiSheena Ayu Buli
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841283410.53599/jap.v4i1.423TEKANSIA: PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH DAN PENYULUHAN UNTUK KESEHATAN LANSIA YANG OPTIMAL DI DESA ALASSUMUR KECAMATAN BESUK KABUPATEN PROBOLINGGO
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/416
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Lansia merupakan kelompok usia yang rentan terhadap hipertensi, yang seringkali tidak terdeteksi karena gejalanya minimal, namun berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti stroke dan penyakit jantung. Survei pendahuluan di Desa Alassumur, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, menunjukkan bahwa sebagian besar lansia mengalami tekanan darah tinggi tanpa disadari. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan lansia mengenai faktor risiko, pencegahan, dan penanganan hipertensi, dengan target peningkatan pemahaman minimal 20% setelah edukasi. Metode yang digunakan adalah one-group pretest-posttest design yang melibatkan 40 lansia. Kegiatan meliputi pemeriksaan tekanan darah, edukasi kesehatan berbasis media audio visual, diskusi kelompok, dan asesmen pemahaman menggunakan kuesioner berisi 15 item sebelum dan sesudah intervensi. Edukasi berlangsung selama 60 menit, dengan pendampingan dari dosen, mahasiswa, bidan desa, dan kader kesehatan.Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa 50% lansia memiliki tekanan darah normal, sedangkan 50% lainnya tergolong prehipertensi atau hipertensi stadium 2. Rata-rata skor pemahaman meningkat dari 58,7 (pra-tes) menjadi 84,1 (pasca-tes), dengan 80% peserta mampu menjawab ≥75% pertanyaan dengan benar. Analisis menunjukkan bahwa deteksi dini yang buruk dan kurangnya pengetahuan merupakan faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya insiden hipertensi. Sebagai tindak lanjut, dibentuk kelompok pendukung lansia berbasis kader kesehatan untuk pemantauan tekanan darah bulanan dan edukasi keluarga rutin. Program "TEKANSIA" telah terbukti efektif dan berpotensi berkelanjutan, menghasilkan dampak promotif dan preventif jangka panjang.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The elderly are a vulnerable age group to hypertension, which often goes undetected due to minimal symptoms, but carries a risk of serious complications such as stroke and heart disease. A preliminary survey in Alassumur Village, Besuk District, Probolinggo Regency, showed that a large proportion of elderly people experience high blood pressure without realizing it. This community service activity aims to increase the elderly's knowledge regarding risk factors, prevention, and treatment of hypertension, with a target of a minimum 20% increase in understanding after the education. The method used was a one-group pretest-posttest design involving 40 elderly people. Activities included blood pressure checks, audio-visual media-based health education, group discussions, and an understanding assessment using a 15-item questionnaire before and after the intervention. The education lasted 60 minutes, with assistance from lecturers, students, village midwives, and health cadres. The examination results showed that 50% of the elderly had normal blood pressure, while the other 50% were classified as prehypertension or stage 2 hypertension. The average comprehension score increased from 58.7 (pre-test) to 84.1 (post-test), with 80% of participants able to answer ≥75% of the questions correctly. Analysis indicated that poor early detection and lack of knowledge were the main factors contributing to the high incidence of hypertension. As a follow-up, a health cadre-based elderly support group was established for monthly blood pressure monitoring and routine family education. The "TEKANSIA" program has proven effective and has the potential to be sustainable, resulting in long-term promotive and preventative impacts.</em></p>vivin nur hafifahFi'isyatil Kamila Humaida HumaidaIlmi Agustin
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841353910.53599/jap.v4i1.416PELATIHAN TANGGAP BENCANA GEMPA BUMI MELALUI PEMBENTUKAN TIM SIAGA DAN JALUR EVAKUASI DI PONDOK PESANTREN NURUL JADID
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/438
<p><strong>Abstrak</strong> </p> <p>Kabupaten Probolinggo merupakan wilayah yang sering kali mengalami bencana terutama bencana gempa bumi, dikarenakan berada di zona subduksi lempeng tektonik. Pondok Pesantren (PP) Nurul Jadid Wilayah Az-Zainiyah, meruakan Pondok yang dibangun bertingkat denan jumlah santri yang cukup padat, belum memiliki kesiapsiagaan bencana yang memadai, seperti pembenukan tim siaga bencana, adanya jalur evakuasi, dan belum pernah pelatihan mitigasi. Tujuan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan santri tentang mitigasi dan pertolongan pertama gempa bumi, membentuk tim siaga bencana dan merancang dan mempetakan jalur evakuasi. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dalam lima tahap: (1) Sosialisasi dan edukasi dengan media komik, (2) Observasi lapangan, (3) Perencanaan jalur evakuasi dan titik kumpul, (4) Pemasangan rambu evakuasi, dan (5) Evaluasi. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan santri yang signifikan pasca pelatihan (dari rata-rata 22,9% menjadi 86,3%), sedangkan kerampilan dalam mempraktikan prosedur <em>Drop, Cover, Hold On</em> dengan benar (90%) dan keterampilan pertolongan pertama dalam melakukan balut bidai (85%), terbentuknya Tim Siaga Bencana Gempa Bumi yang terdiri dari 20 anggota, serta terinstalasinya peta dan rambu jalur evakuasi di 25 titik strategis. Program ini efektif dalam membangun kapasitas kesiapsiagaan komunitas pesantren dan membutuhkan simulasi berkala untuk keberlanjutannya.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Probolinggo Regency is an area that often experiences disasters, especially earthquakes, due to its location in a tectonic plate subduction zone. The Nurul Jadid Islamic Boarding School (PP) in the Az-Zainiyah area is a multi-story boarding school with a large number of students. It does not yet have adequate disaster preparedness measures in place, such as a disaster response team, evacuation routes, or mitigation training. The objectives of this community service program are to increase students' knowledge about earthquake mitigation and first aid, form a disaster response team, and design and map evacuation routes. The implementation method used a participatory approach in five stages: (1) Socialization and education using comic books, (2) Field observation, (3) Planning evacuation routes and assembly points, (4) Installation of evacuation signs, and (5) Evaluation. The results of the community service showed a significant increase in the students' knowledge after the training (from an average of 22.9% to 86.3%), while their skills in correctly practicing the Drop, Cover, Hold On procedure (90%) and first aid skills in applying bandages (85%) also improved. An Earthquake Disaster Preparedness Team consisting of 20 members was formed, and evacuation route maps and signs were installed at 25 strategic points. This program is effective in building the preparedness capacity of the pesantren community and requires periodic simulations for its sustainability.</em></p>Baitus SholehahHusni HidayatiIffatul AskiahHana Thufailah Usdah
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841404610.53599/jap.v4i1.438UPAYA PENATALAKSANAAN DEPRESI DENGAN SCREENING DAN COGNITIVE BEHAVIOR THERAPY PADA LANSIA DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/411
<p><strong>Abstrak</strong> </p> <p>Kelompok usia lanjut yang tinggal terpisah dari keluarga yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha kecenderunagan rentan mengalami gangguan mental depresi dengan perasaan sedih, ketidakberdayaan, dan pesimis, sehingga mengurangi kualitas hidup lansia. Jika kondisi tersebut tidak segera ditangani dapat terjadi masalah kegawatdarutan mental resiko bunuh diri yang rentan mengalami kematian. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk mencegah serta penatalaksanaan depresi pada lansia, supaya tercapainya kesejahteraan mental selama tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha. Kegiatan PKM ini digunakan tiga tahapan metode yaitu pertama perencanaan meliputi survey lokasi, proposal, perijinan, menyusun media <em>screening Beck Deppression Inventory (BDI). </em>Kedua implementasi dilakukan <em>screening</em> BDI kepada semua lansia, kemudian tindakan <em>cognitive behavior therapy</em> <em>(CBT)</em> kepada lansia yang mengalami depresi. Ketiga tahap evaluasi pada keseluruhan proses kegiatan sekaligus pemberian intervensi CBT pada lansia depresi dengan menganalisa perubahan score BDI pada <em>pre</em> dan <em>post</em> intervensi CBT. Hasil kegiatan ini menunjukkan hasil <em>screening</em> BDI pada lansia depresi menjadi menurun menjadi normal sebanyak 62.5%. Maka tindakan <em>screening</em> BDI dan CBT pada lansia direkomendasikan sebagai upaya screening depresi sekaligus CBT kuratif untuk membantu mengurangi masalah depresi pada lansia yang tinggal di lingkungan khusus di panti sosial dengan kolaborasi sinergis antara pihak Panti Sosial Tresna Werdha, keluarga, dan tenaga kesehatan dalam menciptakan lingkungan aman yang mendukung peningkatan kesehatan mental lansia supaya tetap aktif serta produktif secara fisik dan sosial.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Elderly living separately from their families in the social care facility are prone to experiencing mental disorders such as depression, feelings of sadness, helplessness, and pessimism, which can reduce their quality of life. If condition is not addressed immediately, it can lead to mental emergencies suicide risk, which can lead to death. The purpose this community service was prevented and manage depression to elderly, in order to achieve mental well-being while living in the Tresna Werdha social care facility. This PKM activity used three methods stages: first, planning, including location surveys, proposals, permits, and compiling Beck Depression Inventory (BDI) screening media. Second, implementation involves BDI screening for all elderly, followed by specific cognitive behavioral therapy (CBT) measures for elderly with depression. Third, evaluation was carried out on entire activity process, as well as providing CBT interventions for depressed elderly by analyzing changes in BDI scores pre- and post-CBT intervention. The results this activity indicate that the BDI screening results for depressed elderly people have decreased to normal by 62.5%. Therefore, BDI screening and CBT for the elderly will recommend as a preventive BDI and curative CBT approach to help reduce depression to elderly residents living in special social care settings. This synergistic collaboration between the Tresna Werdha Social Care Center, families, and healthcare professionals creates a safe environment that supports mental health to elderly, allowing them to remain physically and socially active and productive.</em></p>Erwin YektiningsihM.Ikhwan Khosasih Fresty AfriciaIva Milia Hani RahmawatiMoch.Gandung Satriya
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841475310.53599/jap.v4i1.411EDUKASI TENTANG KEGAWATAN MATERNAL BAGI CALON PENGANTIN
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/422
<p><strong>Abstrak </strong></p> <p>Kesehatan maternal merupakan salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan suatu bangsa. Tingginya angka kesakitan dan kematian ibu di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberi penguatan persiapan pra nikah bagi calon pengantin terutama terkait pengetahuan tentang kegawatan maternal. Kegiatan edukasi kegawatan maternal bagi calon pengantin berlangsung dengan baik di kantor KUA kecamatan Pare, pada bulan Juni 2025 dihadiri 15 pasang calon pengantin. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama sehari berintegrasi dengan kegiatan pembinaan calon pengantin yang dilakukan oleh KUA. Materi meliputi masalah kesehatan dan kegawatan maternal yang sering terjadi seperti perdarahan, pre eclampsia, persalinan lama, abortus dan komplikasi lain. Dari kegiatan ini didapatkan data bahwa mayoritas calon pengantin belum memahami bahkan menyatakan belum pernah mendengar tentang kegawatan maternal. Setelah pemberian materi dan tanya jawab peserta sebagian besar menjadi memiliki pengetahuan dasar tentang kegawatan maternal. Dari kegiatan ini dapat diketahui bahwa pengetahuan calon pengantin tentang kegawatan maternal masih membutuhkan penguatan. Untuk selanjutnya direncanakan kegiatan pengabdian masyarakat ini akan dilaksanakan secara reguler bekerja sama dengan KUA kecamatan Pare.</p> <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>Maternal health is a crucial indicator in assessing the health status of a nation. High maternal morbidity and mortality rates in many developing countries, including Indonesia, remain a serious challenge to health development. The purpose of this activity was to strengthen pre-marital preparation for prospective brides and grooms, particularly regarding knowledge of maternal emergencies. The activity took place successfully at the Pare District Office of Religious Affairs (KUA) in June 2025, attended by 15 prospective brides and grooms. The one-day activity was integrated with the KUA's guidance program for prospective brides and grooms. The material covered common maternal health issues and emergencies, such as bleeding, pre-eclampsia, prolonged labor, abortion, and other complications. The activity revealed that the majority of prospective brides and grooms did not understand or even stated they had never heard of maternal emergencies. After the presentation and Q&A session, most participants gained basic knowledge of maternal emergencies. This activity revealed that prospective brides and grooms' knowledge of maternal emergencies still needs strengthening. This community service activity is planned to be held regularly in collaboration with the Pare District KUA</em></p>Zauhani KusnulChristianto Nugroho
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841545810.53599/jap.v4i1.422MEMBANGUN POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT MELALUI EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI DI SDN 2 TANJUNGSARI
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/451
<p><strong>Abstrak</strong> </p> <p>Rentang usia 6 hingga 12 tahun, anak-anak memasuki fase sekolah dasar dimana pertumbuhan dan perkembangan mereka berlangsung dengan sangat pesat. Kesehatan merupakan aspek penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama pada usia sekolah dasar. Pada fase ini, anak berada dalam masa transisi dari ketergantungan penuh pada orang tua menuju kemandirian, termasuk dalam menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya. Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu upaya preventif yang dapat ditanamkan sejak dini agar anak terbiasa menjaga kesehatan tubuh dan lingkungannya. Kegiatan pengabdian ini adalah pemberian edukasi dengan media <em>power point </em>tentang cara menjaga kebersihan organ reproduksi. Kegiatan pengabdian ini berlangsung di SDN 2 Tanjungsari Tulungagung pada hari Sabtu 13 September 2025, yang dilaksanakan pada kelas 5 dan 6 yang diikuti oleh 69 murid. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman dan kesadaran murid sekolah dasar mengenai pentingnya menjaga kebersihan reproduksi sejak dini.</p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Between the ages of 6 and 12 years, children enter the elementary school phase where their growth and development takes place very rapidly</em>.<em> Health is an important aspect in supporting the growth and development of children, especially at elementary school age. In this phase, children are in a transition period from complete dependence on parents to independence, including maintaining personal hygiene and health. A Clean and Healthy Lifestyle (PHBS) is one of the preventive measures that can be instilled from an early age so that children get used to maintaining a healthy body and environment. This service activity provided education through power point media about how to maintain the cleanliness of reproductive organs. This service activity took place at SDN 2 Tanjungsari Tulungagung on Saturday 13 September 2025, which was carried out in grades 5 and 6, attended by 69 students. Overall, this activity succeeded in increasing elementary school students' understanding and awareness of the importance of maintaining reproductive hygiene from an early age.</em></p>Nirmala K.SHakim Tobroni Naila Arum RifkianaWidy JatmikoAyudina LarasantiAlifani Faiz FaradhilaWanudya Atmajani
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-082026-01-0841596310.53599/jap.v4i1.451SIAGA DARURAT : PELATIHAN TEKNIK DASAR MENGHENTIKAN PENDARAHAN PADA SISWA
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/453
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Situasi gawat darurat yang terjadi di lingkungan sekolah sering kali membutuhkan respons cepat dari individu terdekat, salah satunya adalah anggota Palang Merah Remaja (PMR). Salah satu kondisi yang paling sering dijumpai adalah kasus perdarahan, yang apabila tidak ditangani dengan benar dapat menimbulkan risiko lebih besar. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan dasar anggota PMR dalam melakukan pertolongan pertama pada kasus perdarahan. Kebaharuan dalam pengabdian ini adalah menggunakan metode pelatihan/pembelajaran langsung “<em>service learning</em>”. Kegiatan dilaksanakan melalui pembelajaran dengan memberikan pelatihan langsung kepada siswa PMR yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nyata dengan mencakup materi mengenai definisi perdarahan, penyebab, tanda-tanda klinis, teknik dasar menghentikan perdarahan, serta prinsip dasar pembebatan. Peserta pelatihan dibagi menjadi enam kelompok dan mengikuti sesi teori, diskusi, demonstrasi, serta praktik langsung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta sudah familiar dengan prinsip pembebatan pada ekstremitas, namun masih ada yang belum memahami pembebatan pada area kepala dan dada. Selain itu, ditemukan juga perbedaan pemahaman dasar antara prinsip 3T (tekan, tutup, tinggikan) yang umum digunakan dalam PMR dan prinsip RICE (rest, ice, compression, elevation). Metode yang digunakan dalam evaluasi adalah dengan cara wawancara dan observasi. Dari hasil observasi dengan membandingkan ketrampilan sebalum dilakukan dan setelah dilakukan pelatihan didapatkan kegiatan ini berhasil meningkatkan keterampilan peserta dan memperluas wawasan mereka mengenai variasi teknik penanganan perdarahan. Kegiatan ini memberikan kontribusi positif dalam memperkuat kesiapsiagaan siswa PMR sebagai tim pertolongan pertama di lingkungan sekolah, sehingga perlu dilakukan diagendakan program yang berkelanjutan.</p> <p>Kata kunci : perdarahan, pertolongan pertama, PMR, pembebatan, situasi gawat darurat</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em> </em></p> <p><em>Emergency situations that occur in school environments often require a rapid response from the closest individuals, one of which is members of the Youth Red Cross (PMR). One of the most common conditions encountered is bleeding, which if not handled properly can pose a greater risk. This community service activity aims to improve the understanding and basic skills of PMR members in providing first aid in cases of bleeding. The innovation in this service is the use of a direct training/learning method "service learning". The activity is carried out through learning by providing direct training to PMR students who need it to meet real needs by covering material on the definition of bleeding, causes, clinical signs, basic techniques for stopping bleeding, and the basic principles of bandaging. Training participants were divided into six groups and participated in theory sessions, discussions, demonstrations, and direct practice. Observations showed that most participants were familiar with the principles of bandaging the extremities, but some still did not understand bandaging the head and chest area. Furthermore, there was also a difference in basic understanding between the 3T principle (press, cover, elevate) commonly used in PMR and the RICE principle (rest, ice, compression, elevation). The evaluation methods used were interviews and observations. Observations comparing pre- and post-training skills revealed that this activity successfully improved participants' skills and broadened their understanding of various bleeding management techniques. This activity positively contributed to strengthening the preparedness of PMR students as first aid teams in the school environment, thus warranting a continued program.</em></p> <p><em>Keywords : bleeding, first aid, Youth Red Cross, bandaging, emergency situations</em></p>Elfi Quyumi RahmawatiErni Rahmawati
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-142026-01-1441646910.53599/jap.v4i1.453PEMBERIAN EDUKASI METODE BIRTH BALL UNTUK PENURUNAN RASA NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF DI TPMB ANDINA PRIMITASARI PALEMBANG
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/448
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Persalinan merupakan proses fisiologis yang hampir selalu disertai rasa nyeri akibat kontraksi uterus, dilatasi serviks, serta penurunan dan rotasi janin di jalan lahir. Pada kala I fase aktif, intensitas dan frekuensi kontraksi semakin meningkat, sehingga rasa nyeri biasanya muncul lebih kuat dan teratur. Berbagai metode manajemen nyeri non farmakologis telah dikembangkan untuk membantu ibu mengatasi ketidaknyamanan selama proses persalinan yaitu dengan metode <em>birth ball</em>. Metode <em>birth ball</em> sangat efektif dalam penatalaksanaan nyeri persalinan karena membantu ibu mempertahankan posisi yang lebih ergonomis, meningkatkan relaksasi otot panggul, serta memanfaatkan gaya gravitasi untuk mempercepat penurunan kepala janin. Penggunaan <em>birth ball</em> dapat merangsang pelepasan endorfin alami yang berfungsi sebagai analgesik tubuh, sehingga persepsi nyeri dapat berkurang secara signifikan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu bersalin dalam mengurangi nyeri persalinan kala I fase aktif melalui penerapan metode <em>birth ball</em> sebagai salah satu manajemen nyeri non farmakologis. Metode yang dilakukan yaitu penyuluhan dan pelatihan metode <em>birth ball</em> kepada peserta penyuluhan. Sasaran pengabdian masyarakat ini adalah ibu hamil yang ada di TPMB Andina Primitasari sebanyak 12 orang. Media yang digunakan adalah power point, gym ball dan leaflet yang berisikan tentang cara mengatasi rasa nyeri persalinan dengan metode <em>birth ball</em>. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini adalah para ibu hamil mengetahui tentang pengertian, penyebab rasa nyeri, faktor-faktor yang mempengaruhi respon terhadap nyeri persalinan dan cara penatalaksanaan nyeri persalinan sebanyak 83,4%. Tenaga kesehatan khususnya bidan diharapkan dapat memberikan demonstrasi langsung penggunaan <em>birth ball</em> serta pendampingan saat persalinan guna membantu ibu mengelola nyeri secara efektif.</p> <p><strong> </strong><strong>Kata kunci :</strong> Nyeri Persalinan, <em>Birth ball</em>, Kala I Fase aktif , Menejemen nyeri non farmakologis, ibu bersalin</p> <p> </p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Labor is a physiological process that is almost always accompanied by pain caused by uterine contractions, cervical dilatation, as well as fetal descent and rotation through the birth canal. During the active phase of the first stage of labor, the intensity and frequency of contractions increase, resulting in stronger and more regular pain. Various non-pharmacological pain management methods have been developed to help mothers cope with discomfort during labor, one of which is the </em><em>birth ball</em><em> method. The </em><em>birth ball</em><em> method is highly effective in managing labor pain because it helps mothers maintain a more ergonomic position, enhances pelvic muscle relaxation, and utilizes gravity to facilitate fetal head descent. The use of a </em><em>birth ball</em><em> can stimulate the release of natural endorphins that function as the body’s analgesics, thereby significantly reducing pain perception. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of laboring mothers in reducing labor pain during the active phase of the first stage of labor through the application of the </em><em>birth ball</em><em> method as a non-pharmacological pain management strategy. The methods used included health education and training on the </em><em>birth ball</em><em> technique for participants. The target of this community service activity was 12 pregnant women at TPMB Andina Primitasari. The media used were PowerPoint presentations, gym balls, and leaflets containing information on managing labor pain using the </em><em>birth ball</em><em> method. The results showed that 83.4% of pregnant women gained knowledge about the definition, causes of pain, factors influencing responses to labor pain, and methods of labor pain management. Health care providers, especially midwives, are expected to provide direct demonstrations of </em><em>birth ball</em><em> use and assistance during labor to help mothers manage pain effectively.</em></p> <p><strong><em> </em></strong><strong><em>Keywords :</em></strong> <em>Labor pain, Birth ball, Active phase of the first stage of labor, Non-pharmacological pain management, Laboring mothers</em></p>Rika OktapiantiDempi Triyanti
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-142026-01-1441707710.53599/jap.v4i1.448PELATIHAN PIJAT BAYI PADA IBU BALITA UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS TUBUH ANAK DI TAMAN POSYANDU DESA PELEM
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/415
<h2>Abstrak</h2> <p>Bayi dapat tumbuh dan berkembang dengan baik jika kebutuhan dasarnya dipenuhi, yaitu asah, asih, dan asuh. Kebutuhan asah berhubungan dengan kebutuhan stimulasi. Stimulasi sebaiknya diberikan sedini mungkin untuk merangsang kemampuan sensorik, emosional, dan juga kognitif bayi atau anak, yang salah satunya dapat dilakukan melalui pijat bayi. Pemberian stimulasi perlu diberikan sejak dini guna merangsang dan membentuk kemampuan sensorik, emosional bahkan kognitif anak. Dampak baik yang dihasilkan dari pijat bayi adalah bayi akan merasa lebih rileks dan nyaman, dengan demikian sistem kekebalan tubuh atau imunitas tubuh pada anak akan meningkat. Pun sebaliknya, kurangnya stimulasi dapat menyebabkan penyimpangan tumbuh kembang anak bahkan gangguan yang menetap.Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan ketrampilan peserta dalam melakukan pijat bayi dan dapat diaplikasikan pada buah hatinya dengan benar dan intens, sehingga sistem imun anaknya akan meningkat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberikan pelatiham dengan teknik <em>emo demo </em>dengan sasran ibu balita, pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 19-25 Mei 2025 di Tapos Desa Pelem Kecamatan Pare. Dari 30 ibu balita yang hadir, semuanya memperhatikan dan aktif dalam mengikuti dan mempraktikkan materi yang diberikan. Dari hasil pengabdian masyarakat terjadi peningkatan kemampuan yang pada ibu balita dalam melakukan pijat bayi sehingga sistem imunitas anak menjadi lebih baik.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>Pelatihan, Pijat Bayi, Imunitas.</p> <p><strong> </strong></p> <p><strong><em>Abstract </em></strong></p> <p><em>Babies can grow and develop well if their basic needs are met, namely nurturing, love, and care. The need for nurturing is related to the need for stimulation. Stimulation should be given as early as possible to stimulate the sensory, emotional, and cognitive abilities of babies or children, one of which can be done through baby massage. Stimulation needs to be given early to stimulate and shape the child's sensory, emotional, and even cognitive abilities. The positive impact of baby massage is that the baby will feel more relaxed and comfortable, thus the immune system or immunity in children will increase. Conversely, a lack of stimulation can cause deviations in child development and even permanent disorders. The purpose of this community service activity is to improve the skills of participants in performing baby massage and can be applied to their children correctly and intensively, so that their child's immune system will improve. This community service activity was carried out by providing training with emo demo techniques with the target of mothers of toddlers, this community service was carried out on May 19-25, 2025 at Tapos, Pelem Village, Pare District. Of the 30 mothers of toddlers who attended, all paid attention and were active in following and practicing the material provided. From the results of community service, there was an increase in the ability of mothers of toddlers to massage babies to increase the child's immunity.</em></p> <p><em> </em><strong><em>Keywords:</em></strong><em> Training, Baby Massage, Immunity.</em></p> <p> </p> <p> </p>Nurin FauziyahSusanti Tria JayaPratiwi Yuliansari
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-142026-01-1441788310.53599/jap.v4i1.415UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA DENGAN PENYULUHAN KESEHATAN DAN DEMONTRASI PEMANFAATAN JUS BUAH BIT DAN JUS BUAH ALPUKAT PADA IBU HAMIL
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/443
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masalah kesehatan yang sering terjadi pada ibu hamil, adalah anemia. Anemia defisiensi besi merupakan salah satu gangguan yang paling sering terjadi terutama selama masa kehamilan.. Salah satu upaya pencegahan anemia adalah dengan mengonsumsi bahan pangan yang kaya zat besi, asam folat, dan vitamin C. Buah bit dan buah alpukat merupakan sumber alami nutrisi yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah. Penyuluhan ini bertujuan untuk mengetahui manfaat konsumsi jus buah bit dan jus buah alpukat dalam upaya pencegahan anemia pada ibu hamil. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang manfaat jus buah bit dan juas buah alpukat. Metode yang dilakukan yaitu penyuluhan kesehatan dan demontrasi, pembagian jus buah bit dan jus buah alpukat bagi peserta penyuluhan. Hasil yang diperoleh dalam kegiatan ini adanya peningkatan penegtahuan sebesar 64% tentang pemanfaatan jus buah bit dan jus buah alpukat. Diharapkan pengembangan program pengabdian masyarakat lebih optimal dengan integrasi program kesehatan ibu hamil, dinas dan pemerintah terkait yang dilakukan secara berkala dan berkelanjutan.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: anemia, ibu hamil, jus buah,</p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>A common health problem in pregnant women is anemia. Iron deficiency anemia is one of the most common disorders, especially during pregnancy. One way to prevent anemia is by consuming foods rich in iron, folic acid, and vitamin C. Beetroot and avocado are natural sources of nutrients that play an important role in the formation of red blood cells. This counseling aims to determine the benefits of consuming beetroot juice and avocado juice in preventing anemia in pregnant women. The purpose of this community service is to increase the knowledge of pregnant women about the benefits of beetroot juice and avocado juice. The methods used are health counseling and demonstrations, distribution of beetroot juice and avocado juice to counseling participants. The results obtained in this activity were an increase in knowledge of the benefits of beetroot juice and avocado juice by 64%. It is hoped that the development of community service programs will be more optimal with the integration of maternal health programs, related agencies and governments that are carried out periodically and continuously.</em></p> <p><em> </em><strong><em>Keywords:</em></strong><em> anemia, juice, pregnant women</em></p>Septiana Rahayu
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-142026-01-1441848810.53599/jap.v4i1.443EDUKASI BAHAYA MEROKOK DI SD NEGERI PELEM 2 DESA PELEM KECAMATAN PARE KABUPATEN KEDIRI
https://jurnal.stikespamenang.ac.id/index.php/jap/article/view/381
<p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Merokok merupakan salah satu perilaku yang memiliki dampak negatif bagi kesehatan, terutama pada anak-anak dan remaja yang masih berada dalam tahap pertumbuhan. Masalah merokok sejak usia dini menjadi tantangan serius dalam upaya menciptakan generasi sehat, terutama karena paparan informasi dan pengaruh lingkungan yang mendorong normalisasi perilaku merokok di kalangan anak-anak. Berdasarkan <strong>Survei Kesehatan Indonesia (SKI) </strong><strong>2023</strong> yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi perokok aktif di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang. Dari jumlah tersebut, <strong>7,4% merupakan anak-anak dan remaja berusia 10–18 tahun</strong> . Secara spesifik, kelompok usia <strong>10–14 tahun</strong> mencatatkan <strong>18,4%</strong> dari total perokok aktif, menunjukkan bahwa sebagian besar anak mulai merokok pada usia sekolah dasar hingga awal remaja. Kegiatan dilaksanakan di SDN PELEM 2 Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri dengan melibatkan siswa dan siswi mulai kelas 4-6, fenomena ini teridentifikasi melalui observasi dan wawancara dengan guru, di mana beberapa siswa menunjukkan pengetahuan yang minim tentang bahaya merokok dan bahkan telah mencoba merokok karena pengaruh teman sebaya dan lingkungan keluarga. Untuk menjawab masalah tersebut, dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi tentang bahaya merokok melalui media interaktif dan pendekatan partisipatif, seperti permainan edukatif, pemutaran video, dan diskusi kelompok. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman sejak dini mengenai dampak negatif merokok terhadap kesehatan dan masa depan anak. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa mengenai bahaya merokok serta perubahan sikap yang lebih kritis terhadap perilaku merokok. Program ini diharapkan menjadi model intervensi berkelanjutan dalam pencegahan merokok sejak dini.</p> <p><strong> </strong><strong>Kata kunci</strong>: edukasi kesehatan, merokok, pencegahan, perilaku anak, sekolah dasar</p> <p><strong><em> </em></strong></p> <p><strong><em>Abstract</em></strong><em><br />Smoking is one of the behaviours that has a negative impact on health, especially in children and adolescents who are still in the growth stage. The problem of smoking from an early age is a serious challenge in efforts to create a healthy generation, especially due to exposure to information and environmental influences that encourage the normalisation of smoking behaviour among children. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (IHS) conducted by the Ministry of Health, the prevalence of active smokers in Indonesia reached around 70 million people. Of these, 7.4% are children and adolescents aged 10-18 years. Specifically, the age group of 10-14 years recorded 18.4% of the total active smokers, indicating that most children start smoking at primary school age until early adolescence. The activity was carried out at SDN PELEM 2, Pare District, Kediri Regency by involving students and students from grades 4-6, this phenomenon was identified through observations and interviews with teachers, where some students showed minimal knowledge about the dangers of smoking and had even tried smoking due to the influence of peers and the family environment. To answer this problem, community service activities were carried out in the form of education about the dangers of smoking through interactive media and participatory approaches, such as educational games, video screenings, and group discussions. This activity aims to instil an early understanding of the negative impact of smoking on children's health and future. The evaluation results showed an increase in students' knowledge about the dangers of smoking as well as a more critical attitude towards smoking behaviour. </em><em>This programme is</em> <em>expected to become a sustainable intervention model in early smoking prevention.</em></p> <p><strong><em> </em></strong><strong><em>Keywords</em></strong><em>: health education, smoking, prevention, child behaviour, primary school</em></p> <p> </p>Erni RahmawatiNirmala KSFresty AfriciaM. Ikhwan KhosasihBambang Wiseno
Copyright (c) 2026 Jurnal Abdimas Pamenang
2026-01-162026-01-1641899410.53599/jap.v4i1.381